Sunday, January 10, 2010

Berjuanglah

Berjuanglah Para Seniman

Teronk


Kata itu yang aku ucapkan dari lubuk hatiku yang terdalam, ku persembahkan untuk komunitas teater kecil di kabupaten Jombang. Karena setelah hampir 1 tahun aku tk menyentuh blog ini, banyak sekali hal yang membuat aku tersenyum, seperti Komunitas Teater Mbureng IKAHA Tebuireng yang mengadakan pentas mandiri tiga kali (Sebuah Pojok pada 20 februari 2009, Sebuah Pojok 2 pada 10 april 2009 dan Karya Mati pada 18 desember 2009) dengan beberapa variasi seperti Musikalisasi Puisi, Musik Kontemporer, Monolog atau Monoplay. Pada bulan desember pula kami kejatuhan bulan dapat mengikuti BAFF 2009 (Batu Festival Film) film indie dan sekaligus memboyong juara 3 penyaji terbaik pada 5 desember 2009. Ditambah lagi salah satu warga menjadi pemain “13 Pagi” pentas perkenalan (keliling Jatim) oleh Komunitas Kopi Hitam Indonesia. Selamat Aku Ucapkan.

Tak cukup itu, kedatangan Teater Mandiri yang di pimpin Putu Wijaya pada Roud Show Kegagahan Burung Merak yang mampir ke Jombang dengan mengusung tema memperingati 100 hari wafatnya WS. Rendra. yang mana itu membawa angin segar bagi para insan seni di daerah ini. Dan masih banyak lagi kegiatan teater dan seni yang mana berjuang untuk tetap melestarikan budaya bangsa yang mulai punah dan hampir habis peminatnya kecuali warga asing. Ironis memang, kenapa kita pewaris budaya malah seneng dengan budaya luar, hampir semua daerah dan negara mengacu pada Barat yang kurang baik dan memang tidak baik. Mari kita berjuang, menikmati, mencintai, bersetubuh dengan seni, karena itu kitab ketiga dari Al-Qur’an dan Hadits. Teruslah berjuang tanpa kenal lelah. Semoga bermanfaat. Amin.

Posted by terong in 09:32:10 | Permalink | No Comments »

Tuesday, February 10, 2009

Puisi, Kritik dan Saran

Puisi, Kritik dan Saran

Dalam puisi ada kritik, dalam kritik puisi ada saran, dan pastinya dalam saran puisi adalah pesan yang disampaikan pengarang. Jelas sudah dan sudah jelas, tinggal bagaimana kita memahaminya, merenungkan dan menghayatinya.
sesuatu tidak akan sampai pada yang dituju, jika tidak ada respon dari yang dituju. misalnya ilmu yang disampaikan guru di kelas tidak akan sampai pada murid jika seorang murid tidur, ngobrol sendiri. seperti Puisi “Selamat Tahun Baru” karya Gus Mus. di salah sati baitnya

………………………..
Iman kita pada Allah dan yang ghaib
Lebih pipih dari kain rok perempuan
………………………….
Syahadat kita rasanya peluh bedug
Atau pernyataan setia pegawai rendahan
……………………………..
dan sebagainya.
Itu merupakan Pesan, Kritik dan Saran, sekalugus bahan perenungan kita kepada Sang Maha Pencipta.
sedikit imu yang saya sampaikan, semoga bermanfaat kepada kita semua. Amin!

.Teronk

Posted by terong in 05:01:16 | Permalink | No Comments »

Friday, January 23, 2009

TEATER, NASEHAT DAN PESAN

TEATER, NASEHAT DAN PESAN

Zaman semakin maju, manusia semakin tak tentu. Semau sendiri dalam berlaku, sesuka hati dalam bertindak, tanpa aturan dan batasan. Agama hanya pesan kuno, kitab hanyalah buku kuno. Semua serba modern, bertehknologi serba canggih yang menjadi jalan gengsi, busana yang tak kenal lelah, bercipta dan berwujud dalam ke-anyar-an, model yang semakin memalukan. Kenyataan sekarang demikian, terutama di Indonesia sendiri. Entah kita menyadarinya atau tidak, atau bahkan menganggap hal itu wajar.

Dengan segudang keprihatinan yang tak terbatas, dan sedikit usaha dalam pencapaian cita-cita dan harapan yang lebih baik. Ulama semakin tak terdengar, kyai semakin tak terlihat, cendekiawan makin samar, seniman semakin tak berdaya. Apa maksudnya? sedikit saya singgung masalah diatas dan ulasan kemarin (Seni, Pendidikan dan Agama) bahwa keadaan kita sangat bertolak belakang dari jiwa kita yang asli.

Selanjunya saya akan berusaha memadukan Teater, Nasehat dan Pesan. Teater secara instan adalan seni pertunjukan yang mencampur olah gerak (ekspresi), olah suara (musik) dan seni rupa. ketiganya terjadi dalam bentuk pementasan yang disebut teater.

Di Indonesia sendiri, banyak komunitas teater yang menaungi sanggar-sanggar kecil atau besar, tapi sedikit sekali orang yang mau melihat, mendengar dan membicarakannya. Pada hal jika kita cermati secara teliti, mereka (orang teater) hamya menyampaikan nasehat dan pesan kepada penonton. Tak lain dengan menasehati atau memberikan pengetahuan dan ilmu.

Mungkin hanya sekian yang saya paparkan, tak lepas dari penyadaran diri dan ajakan untuk bercermin atas apa yang kita lakukan selama ini. Teater, selalu memberikan nasehat kepada kita, dan memberikan pesan kepada kita. Maka mari cermati dan jalankan apa yang diperoleh dari pertunjukan. Singkat tapi berisi, butuh kelanjutan pemikiran pembaca. Dan ulasan ini tak lepas dari kekurangan dan kecacatan, dimohon dengan hormat bagi siapa yang membaca untuk memberikan saran dan kritik. Semoga bermanfaat. Amin.

Posted by terong in 20:34:45 | Permalink | No Comments »

Thursday, January 22, 2009

Seni, Pendidikan dan Agama

SENI, PENDIDIKAN DAN AGAMA.

Tiga unsur inilah yang menjadi landasan penulisan saya. Pertama adalah seni, dimana seni sering kali dianggap remeh dan tidak berbobot, menghabiskan waktu tanpa arti, pokoknya hal-hal negatif sering mampir kepada seni. Kenapa? karena yang mengatakan demikian adalah orang-orang yang tidak memahami apa itu seni.
Saya mengartikan seni adalah media untuk menyampaikan informasi, perasaan hati, kritik, saran dan lain sebagainya, bahkan seni dapat dijadikan media untuk menggambarkan dan menyampaikan pesan-pesan ilmu pengetahuan (pendidikan), menjelaskan dan memaparkan agama atau kepercayaan, dan sebagainya, tergantung siapa yang menciptakan dan menyajikan seni itu sendiri.
Kalau kita melihat sejarah, “Wali Songo” tidak lewat pemaksaan memeluk Islam dalam penyebaran dan dakwahnya di tanah Jawa, tetapi lewat media seni “
Wayang Kulit” yang diciptakan dan disampaikan pesan-pesan agama dalam dakwahnya.
Begitu juga dengan pendidikan, lukisan-lukisan yang mengusung tema pendidikan banyat tercipta dan tersajikan untuk menyampaikan pesan pendidikan. seperti lukisan “Inul Menari dikerumunan para Kyai” itu menggambarkan betapa hilangnya jati diri warga Indonesia yang dikenal ramah, sopan, tetapi telah rusak akibat dari Globalisasi.
Sudah jelas bukan! Indonesiaku telah berbelok arah dari kesempurnaan menjadi kebobrokan.
Dengan ini, saya mengajak kaum muda terutama, untuk menyadari dan bersama-sama menjadikan Indonesia lebih baik dari sekarang, minimal menyamai perilaku nenek moyang kita.
Terima kasih atas kesediaannya membaca. Semoga bermanfaat bagi kita semua,
Warga Indonesia

Posted by terong in 16:56:49 | Permalink | No Comments »